Salah satu pengalaman paling umum yang dialami penyandang disabilitas mental adalah tidak didengar. Keputusan tentang hidup mereka sering diambil oleh orang lain—keluarga, tenaga kesehatan, atau institusi—tanpa melibatkan mereka secara bermakna.
Padahal, hak untuk menyatakan pendapat dan terlibat dalam pengambilan keputusan merupakan bagian penting dari hak atas kebebasan dan pengakuan sebagai pribadi di hadapan hukum. Ketika seseorang tidak didengar, kebebasan mereka perlahan hilang, bahkan sebelum terjadi pemasungan secara fisik.
Hasil studi menunjukkan bahwa pengabaian suara penyandang disabilitas mental berkontribusi pada praktik pengurungan, institusionalisasi, dan bentuk lain perampasan kebebasan.
Mendengar bukan sekadar empati.
Mendengar adalah penghormatan terhadap hak asasi manusia.
